Categories
Uncategorized

Kisah Peternak Kambing Di Bogor Yang Raup Omzet Rp 500 Juta Per Bulan

Peternak Kambing Di Bogor Yang Memiliki Omset Ratusan Juta

Pelatihan Ternak Kambing – Bisnis di sektor peternakan masih dianggap menguntungkan, khususnya ternak kambing. Hal ini diungkap oleh Budi Susilo Setiawan, salah seorang peternak kambing dan domba di Desa Tegalwaru, Bogor.

Budi merupakan salah satu mitra nasabah mikro Bank Syariah Mandiri (BSM) sejak tahun 2010. Selain dari investor pribadi, sumber modal utama Budi adalah dari pinjaman mikro di BSM. Modal ini digunakannya untuk mengelola lahan miliknya seluas 12 hektare (ha).

Lahan milik Budi ini berada di kawasan Agrowisata Waru Farm Land, di desa wisata sentra UKM Tegal Waru, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Di lahan ini, selain untuk bisnis ternak kambing, juga ada bisnis ternak sapi dan domba. Saya juga merambah bisnis properti, jual tanah kavlingan,” katanya saat ditemui di peternakannya di Desa Tegalwaru.

Budi bercerita sudah 16 tahun menekuni bisnis ternak kambing dan domba. Awalnya pria lulusan Fakultas Peternakan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) ini hanya menjual kambing titipan petani di tahun 2002 lalu. Dulu tahun 2002 itu mulai jual kambing orang ada sekitar 13 ekor untuk kurban. Lalu, dapat untung dan tahun 2003 mulai ternak 40 ekor kambing dan masih jual sebanyak 86 ekor kambing,” katanya.

Perkembangan Dari Tahun Ke Tahun

Setiap tahun, jumlah ternak kambing Budi bertambah. Tahun 2004, tercatat kambing ternak Budi bertambah menjadi 100 ekor dan yang siap dijual sebanyak 106 ekor. Di tahun 2005 itu memutuskan untuk perbesar kandang, dengan begitu jumlah kambing yang diternak sebanyak 500 ekor dan dijual 800 ekor,” kisahnya.

Lalu, pada 2006 jumlah kambing ternaknya bertambah hingga mencapai 800 ekor dan dijual sebanyak 2.700 ekor kambing. Kemudian, pada 2007 dia merawat 700 ekor kambing, menjual 1.700 ekor kambing. Budi juga masuk ke peternakan sapi sejak tahun 2007 dengan menjual sebanyak 7 ekor. Kemudian di tahun 2008, jumlah sapi Budi bertambah menjadi 4 ekor.

Namun, bisnis Budi tak selamanya berjalan mulus. Di tahun 2008, hasil penjualan sapi yang disebarnya ke beberapa wilayah seperti Solo hingga Yogyakarta tak kunjung datang. Beberapa peternak di daerah yang menjadi mitranya tidak memberi hasil penjualan sapi yang sudah didistribusikan Budi.

Saat itu BUMN kan ada program ternak sapi tapi enggak punya market banyak. Saya diminta untuk bentuk market-nya, makanya saya sebar sekitar 100 sapi ke mitra saya. Padahal, awalnya saya jual sapi BUMN itu kecil-kecilan tapi karena itu tergiur tadi akhirnya saya sebar 100 ekor atas dasar percaya saja ke petani daerah. Tapi ternyata enggak ada yang berikan hasil penjualan. Sampai akhirnya piutang yang harus saya bayarkan itu kan Rp 10 miliar, yang sanggup saya bayar hanya Rp 6 miliar ke BUMN,” kisahnya.

Dia kemudian memutuskan untuk menjual lahan seluas 1,5 hektare yang dia miliki kala itu. Namun, penjualan lahan pun tidak secepat yang diharapkan. Hingga Budi memutuskam untuk menjual lahannya secara kavlingan. “Di situ baru laku banyak. Sedikit banyak saya jadi masuk ke bisnis properti juga karena itu,” tuturnya.

Masalah ini pun mampu diatasinya hingga bisa menghasilkan sebanyak 600 ekor kambing dan domba. Selain itu, Budi juga menambah jumlah ternak sapi menjadi 100 ekor sekarang ini. Dia menuturkan, bisnis ternaknya kian menguntungkan apabila Idul Adha tiba. Pemesanan hewan kurban mampu mengantongi pundi-pundi keuangan Budi dan peternakan lainnya di kawasan tersebut.

Kalau kambing hidup itu kita jual biasanya Rp 60 ribu per kilogram (kg), kalau Idul Adha kita bisa jual sampai Rp 75 ribu hingga Rp 80 ribu per kg. Bobot kambing satu ekor berkisar 25-30 kg,” tuturnya. Saat ini, Budi juga memiliki 50 mitra peternak di kawasan Bogor dan dua kelompok mitra peternak di Lampung. “Satu kelompok mitra peternak di Lampung berisi sekitar 20-25 peternak,” ucapnya.

Selain itu, Budi juga melebarkan lini bisnis peternakan ke hilir. Tak hanya bahan makanan olahan, Budi juga menjual hingga aksesoris berupa tas, jaket, topi dan sandal kulit kambing dan sapi. Alhasil, bisnis ternak Budi kian membuahkan hasil cukup signifikan. Setiap bulannya Budi mampu mengantongi omzet secara keseluruhan Rp 600 juta hingga Rp 700 juta per bulan.

“Omzet sekitar Rp 600-Rp 700 juta per bulan secara keseluruhan dari hulu ke hilir,” ungkapnya.

Penyaluran Modal

Area Manager Bogor Bank Syariah Mandiri, Fitria Ekayani, mengatakan bahwa pihaknya telah bekerja sama dengan beberapa mitra Laznas untuk pengembangan hewan ternak. Langkah ini untuk mempermudah masyarakat mendapatkan daging terutama saat Idul Adha.

“Budi owner mitra tani dekat. Pak Budi sejak 2010 menjadi nasabah Bank Syariah Mandiri. Budi mendapatkan pinjaman permodalan Rp 785 juta. Pinjaman Rp 785 juta secara keseluruhan, jadi awal minjam 2010 kemudian pinjaman lagi tahun berikutnya sampai sekarang tersisa hanya Rp 70 juta,” ungkapnya.

Di sisi lain, menurut Fitria masyarakat Bogor kebanyakan merupakan nasabah ritel konsumer mikro. Tentunya dengan berbagai macam industri. “Outstanding konsumer mikro Rp 1,1 miliar lalu gadai di bawah Rp 100 juta dan bisnis banking misal UKM di bawah Rp 100 juta. Target mikro Rp 300 juta hingga akhir tahun,” ungkapnya. Dia merinci, produk konsumer sekitar 60 persen dari Kredit Perumahan Rakyat, otomotif dan Implan. “Paling besar griya Rp 800 miliar karena lokasi Bogor beli rumahnya meski kerjanya di Jakarta,” pungkasnya.